Senin, April 25, 2022

3.1.a.8 Koneksi Antarmateri- Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

3.1.a.8 Koneksi Antarmateri



Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Oleh: Apri Judistira, S.Pd

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2019-2024 salah satu visi Pemerintah Republik Indonesia berfokus pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui peningkatan kualitas pendidikan dan manajemen talenta. Visi tersebut terkait langsung dengan tugas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai penyelenggara pemerintahan di bidang pendidikan dan kebudayaan. Salah satu Program yang diluncurkan adalah Program guru Penggerak.


Program Guru Penggerak merupakan kegiatan pengembangan profesi melalui pelatihan dan pendampingan yang berfokus pada kepemimpinan pembelajaran agar mampu mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik; aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik; serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila. Profil pelajar Pancasila yang dimaksud adalah peserta didik yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkebinekaan tunggal, bernalar kritis, dan mandiri.


Program ini bertujuan memberikan bekal kemampuan kepemimpinan pembelajaran dan pedagogi kepada guru sehingga mampu menggerakkan komunitas belajar, baik di dalam maupun di luar satuan pendidikanserta berpotensi menjadi pemimpin pendidikan yang dapat mewujudkan rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik ketika berada di lingkungan satuan pendidikannya masing-masing. Rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik ditunjukkan melalui sikap dan emosi positif terhadap satuan pendidikan, bersikap positif terhadap proses akademik, merasa senang mengikuti kegiatan di satuan pendidikan, terbebas dari perasaan cemas, terbebas dari keluhan kondisi fisik satuan pendidikan, dan tidak memiliki masalah sosial di satuan pendidikannya.   

Dari beberapa informasi yang didapat dari media maka muncul ketertarikan saya untuk mengikuti program tersebut, dengan berbekal keberanian serta harapan yang besar akan perubahan terhadap diri maka keputusan untuk mengikuti PGP tersebut sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Tentu keinginan tersebut juga didorong adanya motivasi dari keluarga serta teman sejawat yang ada disekolah. 


Kegiatan Program dilaksanakan menggunakan metode pelatihan dalam jaringan (daring), lokakarya, dan pendampingan individu. Proporsi kegiatan terdiri atas 70% belajar di tempat bekerja (on-the-job training), 20% belajar bersama rekan sejawat, dan 10% belajar bersama narasumber, fasilitator, dan pendamping.


Calon Guru Penggerak menjalankan proses pendidikan selama 9 bulan yang terdiri pembelajaran daring dan pendampingan. Pembelajaran daring berlangsung selama 6 bulan dengan 3 paket modul yang wajib dipelajari oleh Calon Guru Penggerak. Pendampingan terdiri dari lokakarya dan pendampingan individu yang akan dilaksanakan setiap bulan selama 9 bulan.


Sampai tulisan ini dibuat perjalanan mengikuti Program guru penggerak angkatan 4  ini sudah sampai pada modul 3.1 yaitu pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Yang merupakan bagian dari paket modul 3 yaitu Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah.  Yang artinya CGP telah melalui 2 paket modul yaitu paket modul 1 tentang Paradigma dan visi Guru penggerak dan modul 2 yaitu Praktek Pembelajaran yang berpihak pada murid. 


Dalam Modul 3.1, pembahasan tentang peengambilan suatu  keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan ini, secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga yang dipimpin , yang tentunya berdampak kepada mutu pendidikan yang didapatkan murid-murid di Sekolah.


Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?


Pada sesi modul  1.1 Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Di dalam melaksanakan pembelajaran seorang pemimpin (guru) harus menerapkan sistem among (menuntun) agar mampu mendorong tumbuh kembangnya potensi siswa. 

Selain itu, seorang pemimpin (guru) harus selalu berpedoman pada Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. 

Kaitannya dengan pengambilan keputusan, Dalam pengambilan keputusan tentu seorang pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat, bijak serta berpihak kepada murid. Keputusan-keputusan  tepat yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran akan menjadikan mereka sebagai role model ( teladan) bagi peserta didik. Keputusan tersebut juga mampu membangun semangat orang-orang yang dipimpinnya (siswa), dan keputusan tersebut dapat memberikan motivasi kepada orang-orang yang dipimpinnya (siswa) untuk dapat mengembangkan minat, bakat, dan potensi yang dimiliki.  


Di dalam mengambil sebuah keputusan seorang pemimpin (guru) harus selalu menyelaraskan dengan visi dan misi yang telah disusun dan disepakati bersama, agar apa yang diputuskan jelas dan terarah. Utamanya dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid sehingga terwujud merdeka belajar.


Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti.  

Keputusan tepat yang diambil merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan oleh Calon guru penggerak. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik.

Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Dalam proses pengambilan keputusan, selain melakukan pengujian paradigma, prinsip resolusi, serta menjalankan langkah-langkah pengambilan keputusan, perlu juga ditopang dengan keterampilan lain. Keterampilan yang telah dipelajari pada modul-modul sebelumnya akan sangat membantu, salah satunya adalah keterampilan coaching.

Strategi coaching merupakan salah satu cara terbaik untuk menggali permasalahan-permasalahan yang terjadi pada setiap warga sekolah. Serta tehnik ini juga dapat menengkplorasi kemampuan seseorang dalam pengambilan keputusan yang tepa tatas permasalahan yang mereka hadapi. Konsep coaching TIRTA tentu akan sangat ideal jika dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

keterampilan sosial merupakan salah satu kecerdasan emosional yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan yang bijak secara signifikan. Keterampilan sosial seseorang sangat diperlukan dalam membina hubungan dan berkomunikasi dengan orang lain. Dengan adanya komunikasi dan hubungan yang baik dengan lingkungan sosial, kita dapat menyampaikan opini untuk keputusan bersama dengan lancar. Sehingga maksud dari opini kita tersampaikan dengan baik, hal ini berdampak positif pada pengambilan keputusan.

Kemampuan pengambilan keputusan yang tinggi didasarkan pada pengetahuan yang dimiliki, potensi yang dimiliki, lingkungan sekitar dan pendapat orang lain. Sehingga, bila individu memiliki kematangan secara emosional maka individu tersebut dapat bereaksi secara positif dan menghasilkan keputusan yang tidak merugikan dirinya dan orang lain.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat pada masalah moral atau etika harus berpedoman pada paradigma, prinsip dan 9 langkah dalam proses pengujian dan pengambilan keputusan, Dapat dipastikan jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses tersebut maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan  akan hidup. Hal ini juga yang masih menjadi kesulitan dalam pelaksanaan pengambilan keputusan disekolah kami. Meskipun Dalam kasus dilema etika, pada dasarnya apapun keputusan yang kita ambil dapat dibenarkan secara moral.

Keputusan sepenuhnya tidak bisa menyenangkan semua pihak yang terlibat dalam masalah, maka perlu diperhatikan prinsi-prinsip dalam pengambilan suatu keputusan. Kita harus berfikir hasil akhir dari keputusan kita yang sesuai dengan prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end based thinking), kita juga harus melihat peraturan yang mendasari keputusan yang kita ambil (berpikir berbasis peraturan-rule based thinking) serta kita harus menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman sesuai dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (care based thinking). yang pastinya kita harus membuat keputusan tersebut dan bertangung jawab terhadap apa yang sudah diputuskan.

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Setiap keputusan-keputusan yang dibuat seyogyanya bisa mencapai tujuan yang menjadikan tumbuh kembang peserta didik secara holistik; aktif dan proaktif dalam pembelajaran. Serta memberikan memberikan keputusan yang menguntungkan bagi peserta didik. 


Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Setiap keputusan yang diambil seorang pemimpin pembelajaran akan memberikan dampak kepada murid-murid baik secara langsung maupun tidak langsung. Keputusan yang salah tentunya akan berakibat buruk bagi murid. Sebaliknya, keputusan yang tepat akan memberikan dampak baik bagi murid. Keputusan yang diambil tidak hanya berlaku untuk jangka pendek saja, tetapi juga untuk jangka Panjang bahkan di kehidupan atau masa depan murid-murid. Jika keputusan yang diambil berkaitan secara langsung dengan murid, keputusan itu kemungkinan akan terus diingat dan bahkan dijadikan contoh oleh murid. Apalagi jika keputusan tersebut berperan penting atau merupakan keputusan besar berkaitan dengan hidup seorang murid.

seorang guru harus terus mengupgrade potensi dan keterampilan melalui pengembangan diri berkelanjutan dengan berbagai aktivitas positif, mempelajari berbagai keterampilan pendukung, sehingga mampu membuatnya menjadi pemimpin pembelajaran yang bisa mengambil keputusan yang tepat pada segala kondisi yang dihadapi.  Membentuk anak untuk menjadi pribadi unggul yang siap mengahadapi tantangan jaman adalah tugas guru yang harus dipenuhi. Guru sebagai pengambil keputusan mempunyai peran sentral dalam mengajar dan mendidik anak terutama budi pekertinya sehingga mampu menumbuhkan budaya positif di lingkungan sekolah dan masyarakat pada umumnya.

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimplan yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah :


  1. Patrap Triloka ini juga dapat menjadi asas bagi guru dalam perannya sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Pengambilan keputusan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.
  2. Nilai-nilai yang tertanam pada diri kita akan mempengaruhi setiap keputusan yang kita buat. Maka meningkatkan nilai diri merupakan hal utama dalam menjadi pemimpin pembelajaran.
  3. Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus memiliki kematangan secara emosional agar  dapat bereaksi secara positif dan menghasilkan keputusan yang tidak merugikan dirinya dan orang lain.
  4. Proses coaching sangat membantu seseorang dalam pengambilan keputusan terutama pengujian pengambilan keputusan yang telah diambil. Sebagai seorang pemimpin pembelajarn guru harus bisa berperan sebagai coach bagi dirinya, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi sehingga dapat mengambil keputusan terbaik
  5. Pengambilan keputusan ini harus berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, kepentingan murid dan rasa tanggung jawab sehingga keputusannya dapat mengembangkan segala kodrat yang melekat seperti minat, bakat serta potensi yang dimiliknya yang  bertujuan well being ( kebahagiaan dan kesejahteraan ) muridnya dan terciptanya merdeka belajar

sekian tulisan ini dibuat. atas perhatiannya terimakasih. 
Belitung 25 April 2022. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3.1.A.7. DEMONTRASI KONTEKSTUAL

  3.1.A.7. DEMONTRASI KONTEKSTUAL OLEH : APRI JUDISTIRA, S.Pd Bagaimana anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang anda dap...