Tampilkan postingan dengan label 2.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Modul 2.1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Modul 2.1. Tampilkan semua postingan

Jumat, April 01, 2022

2.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Coaching

 

2.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Coaching

A. Pengertian Coaching dan penerapannya dalam pembelajaran

Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999)

Coaching memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. Jika proses coaching berhasil dengan baik, masalah-masalah pembelajaran atau masalah eksternal yang mengganggu proses pembelajaran dan dapat menurunkan potensi murid akan dapat diatasi. Mengingat pentingnya proses coaching ini sebagai alat untuk memaksimalkan potensi murid, guru hendaknya memiliki keterampilan coaching. International Coach Federation (ICF) memberikan acuan mengenai empat kelompok kompetensi dasar bagi seorang coach yaitu:

  • keterampilan membangun dasar proses coaching
  • keterampilan membangun hubungan baik
  • keterampilan berkomunikasi
  • keterampilan memfasilitasi pembelajaran

B. Penerapan Coaching dengan Model TIRTA dalam Pendidikan

TIRTA dikembangkan dari satu model coaching yang dikenal sangat luas dan telah diaplikasikan, yaitu GROW model. Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan praktik coaching di komunitas sekolah dengan mudah.

TIRTA kepanjangan dari T: Tujuan I: Identifikasi R: Rencana aksi TA: Tanggung jawab. Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Anda, sebagai guru memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan.

 

 

C. Sintesis antar materi coaching dengan materi sebelumnya

Coaching memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. Pendapat ini sejalan dengan tujuan Pendidikan menurut ki Hajar Dewantara yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Guru sebagai coach sangat berperan penting dalam menciptakan kenyamanan bagi murid melalui keterampilan berkomunikasi dengan baik sehingga timbullah rasa empati, saling menghormati dan saling menghargai antara guru dan murid. 

Tehnik Coaching sejalan dengan visi dan misi guru penggerak dalam menciptakan budaya positif disekolah. Coaching menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari visi misi yang akan dilaksanakan oleh guru penggerak. Coaching menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang jadi penghambat visi serta misi terealisasi.

Dengan adanya tehnik coaching akan memberikan dampak hubungan yang baik antara guru dan murid disekolah. Kedekatan emosional ini membuat suasana well being bagi murid. Dan terciptanya merdeka belajar dilingkungan sekolah.

 

Selasa, Februari 15, 2022

 

 

2.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Modul 2.1

 

  1. Dari apa yang sudah Anda pelajari, materi apa yang menurut Anda dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait dengan pembelajaran di kelas Anda?
  2. Apa yang menurut Anda sulit untuk diterapkan? Mengapa menurut Anda hal tersebut sulit diterapkan?
  3. Jika Anda harus menerapkan hal yang sulit tersebut, dukungan Apa yang Anda perlukan? Kemana atau bagaimana Anda akan dapat mengakses dukungan tersebut.
  4. Jika Anda menghadapi sebuah situasi, dimana kebutuhan belajar siswa Anda tidak dapat diakomodasi oleh pembelajaran berdiferensiasi beranikah Anda mengambil risiko untuk memodifikasi pembelajaran Anda, meskipun hal tersebut mungkin tidak umum atau tidak sesuai dengan sistem yang ada? Jelaskan pendapat Anda dengan alasannya.

Jawaban.

1. Berdasarkan apa yang telah saya pelajari pada modul ini , dari setiap bagian modul ini memudahkan CGP dalam memahami tentang pembelajaran berdiferensiasi sebagai solusi dalam mengatasi siswa yang beraneka ragam atau heterogen. CGP sedikit demi sedikit memahami tentang konsep pembelajaran berdiferensiasi , penerapan 3 strategi diferensiasi (konten , proses , produk) , serta cara membuat RPP berdiferensiasi. Setiap materi memiliki andil dalam membantu CGP memahami konsep pembelajaran berdiferensiasi. Modul ini menambah wawasan CGP untuk menjadikan merdeka Belajar disekolah.

2. menurut pendapat awal saya setelah mempelajari modul ini dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini menjadi hal yang baru bagi CGP . tentu ini menjadi tantangan bagi CGP dalam mengimplemetasikan pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang berbeda. Adapun kesulitan dalam menerapkan adalah 

  • Adaptasi CGP dalam melakukan pola pembelajaran baru akan membutuhkan waktu yang lama.
  • pengkondisian siswa yang notabene masih perlu banyak diarahkan.
  • Membuat RPP berdiferensiasi yang mengakomodasi kebutuhan siswa yang berbeda butuh analisis kebutuhan murid yang akan memakan waktu,

3. Dukungan yang diperlukan dalam mengatasi kesulitan diatas yakni :

  • dukungan serta legalitas dari Kepala Sekolah dan teman sejawat dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi baik itu moril ataupun materil
  • Kesiapan murid  dalam menerima hal baru dalam pembelajaran dan dapat berperan aktif dalam memberikan informasi yang akurat tentang kebutuhan belajar mereka
  • Adanya sistem atau kurikulum yang dapat mendukung tercapainya pembelajaran berdiferensiasi melalui kebijakan Nasional sampai ke tingkat Sekolah.
  • Dukungan dari orang tua murid dalam memberikan informasi tentang keadaan siswa serta kolaborasi dalam melaksakan pembelajaran dirumah.

4. Menurut saya, jika saya berada pada situasi dimana kebutuhan belajar siswa saya tidak dapat diakomodasi oleh pembelajaran berdiferensiasi, maka harus mengambil keputusan bagaimana agar pembelajaran dapat memenuhi setiap murid disekolah . hal ini dikarenakan murid harus mendapatkan Pendidikan serta pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar mereka sejalan dengan filosofi KHD yang menyatakan bahwa pembelajaran itu harus bermakna dan menyenangkan demi terwujudnya merdeka belajar serta tujuan yang mulia yaitu terciptanya profil pelajar Pancasila.


3.1.A.7. DEMONTRASI KONTEKSTUAL

  3.1.A.7. DEMONTRASI KONTEKSTUAL OLEH : APRI JUDISTIRA, S.Pd Bagaimana anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang anda dap...